Tampilkan postingan dengan label sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sains. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Oktober 2023

Merayakan yang Insignifikan

*alangkah baiknya, putar salah satu lagu di bawah ini ketika membacanya:


Hans Zimmer - Day One

Muse - New Born

Muse - Space Dementia

Beach House - Space Song

Angels & Airwaves - The Adventure

Dream Theater - Pale Blue Dot

Dream Theater - The Spirit Carries On


***


“di sisi lain, ketika segalanya tampak insignifikan, melanjutkan kehidupan & merayakan kesia-sian... adalah hal waras yang paling mungkin dilakukan.”


rasa-rasanya... sejak masih bocah ingusan... aku punya semacam obsesi aneh terhadap langit & benda-benda luar angkasa. aku seperti tertarik dengan bagaimana astronot & badan antariksa bekerja. lebih tepatnya, terhadap hal-hal eksistensial & ekstraterestrial: katakanlah... apa semesta, apa galaksi; kalau memang ada, di mana aku bisa menjumpai alien-alien itu; kapan kiamat secara ilmiah mungkin terjadi; siapa pencipta, siapa ciptaan; mengapa manusia berada di bumi; bagaimana makhluk bersel satu itu mengada, berevolusi sedemikian rupa & cara, selamat dari lima kali kepunahan massal, membikin mesin-mesin & mengembangkan kecerdasan buatan, hingga dalam sepuluh tahun lagi besar kemungkinan bisa mengolonisasi planet Mars. & seterusnya, & seterusnya.


entahlah, yang jelas, rasa penasaranku akan hal-hal berbau semacam itu tak pernah terpuaskan. rasanya seperti meminum air laut; semakin kureguk, semakin haus kurasa. ketika kutemukan satu jawaban bagi satu pertanyaan, maka akan lahir pertanyaan lanjutan. seakan-seakan memang tidak akan pernah kutemukan garis finis, hanya hilir-hilir checkpoint yang tak punya hulu. bagai kalimat panjang tanpa titik, & cuma berisi koma. pada gilirannya, aku mesti berdamai dengan “kondisi kemanusiaanku” yang hampir setiap waktu menghantuiku ini: aku bergerak menuju kematian yang tak terbantahkan & tak terhindarkan—& pada akhirnya mati-dikuburkan bersama tanya-tanya nirjawaban. tentu saja, adalah ngeri bagiku membayangkan mati dengan segudang pertanyaan. tapi ya seribu tapi.


sisi baiknya, “pencarian tiada henti” itulah bahan bakar utamaku untuk terus belajar (selain merawat rasa tolol dalam diri) sampai mampus; demi memuaskan dahaga bocah kecil yang bawel dalam diriku. & mungkin memang begitulah prosesnya, berisi serangkaian falsifikasi. & percobaan & kegagalan. & jatuh & bangun lagi. sadar & tersadarkan lagi. tidak pernah final. selalu bergerak menuju satu poin, & setelah sampai, lantas bergerak menuju poin lain lagi.


masalahnya, begini... semakin aku mendalami astronomi (& kosmologi), atau ilmu alam secara umum—katakanlah demikian—aku kian merasa insignifikan. aku seperti diisap lubang hitam, & seluruh “cahaya” yang kupunya habis tak tersisa. 'cahaya' yang kumaksud di sini, merupakan kombinasi dari kesadaran terestrial, harapan, & kenaifan. dengan kata lain, aku seolah-olah memasuki ruang ekstraterestrial di mana kegelapan adalah yang berkuasa—& inti dari segalanya. sependek pemahamanku pun demikian, ketika suatu benda langit kehilangan momentum sudut, maka ia akan tersedot lubang hitam—& barangkali begitulah hukum gravitasi bekerja.


tapi, biar kubuat lebih sederhana... aku jadi mikir begini: di hadapan lebih dari lima ratus semesta, dengan lebih dari tujuh ratus kuintriliun planet & triliunan tahun cahaya yang memisahkan mereka—apalah arti titik biru pucat, dengan lebih dari tujuh koma delapan miliar manusia yang hidup di dalamnya, tiga ribu tuhan yang mereka sembah & lima ribu agama yang mereka anut, dengan lebih dari tujuh ribu bahasa yang tersebar di seratus sembilan puluh tiga negara itu? di hadapan semesta yang mahaluas & terus mengembang (seperti roti yang diberi baking powder atau donat plus ragi)—apalah arti pemenang & pecundang, pendoa & pendosa, perintis & pewaris, invensi & konvensi?


kesadaran ngeri-ngeri sedap ini kudapatkan dari Sagan, astronom yang puitis, dalam buku monumentalnya: Pale Blue Dot. kalau boleh jujur, terkadang ada penyesalan tak tertahankan dari mendapat perspektif membagongkan semacam ini. tapi waktu tidak bisa kuputar—& mesin waktu, kalau pun ada, tidak bisa kugunakan bila aku masih punya massa alias tak bisa bergerak di kecepatan cahaya—atau jika konsep waktu linier adalah yang benar.


sependek pengalamanku, dalam kesadaran akan nihilitas-kosmik semacam ini, segala sesuatu terasa-tampak nihil & insignifikan—seperti ketika kita mencoba mengobservasi kehidupan kuantum tanpa lensa mikroskopik. apa yang kita lihat? ketiadaan-kekosongan. kalau pun kita mencoba mengamati kehidupan kuantum tersebut dengan bantuan mikroskop, tetap saja akan terasa-tampak insignifikan. aku berani bertaruh, jika seekor tungau punya kesadaran semacam ini, maka dalam beberapa menit ia akan dirawat di poli jiwa & rutin mengonsumsi obat-obat psikosomatik. bayangkan saja, setiap arti & makna dalam kamus kepalamu, yang telah tersusun rapi & kokoh, tiba-tiba menjadi tak berarti & tak bermakna. setiap usaha yang kau lakukan, orang-orang yang kau kenal & sayangi, perang yang kau menangkan, peluru yang kau hindari—semuanya jadi nirmakna & sia-sia. hahahahaha...


meskipun begitu, menurutku, kesadaran akan nihilitas-kosmik ini manusiawi—sebab manusia mungkin secara alamiah punya kecenderungan untuk terus mencari & mencari. biasanya, ketika “kegelapan” adalah satu-satunya yang ia temukan, maka mulailah ia mencipta fiksi-fiksi demi meredam ketakutannya. diakui atau tidak, manusia besar kemungkinan tak bisa hidup tanpa arti & makna buatannya sendiri. & oleh karenanya, di titik ini, aku curiga: jangan-jangan, manusia adalah hewan fotonvora; ”pemakan cahaya”. seekor hewan pemakan cahaya/harapan/fiksi, yang terpendam di tubuh kata & frasa, yang disepakati punya arti & makna begini atau begitu demi menjaga “rasa percaya” akan esok hari.


tapi tak apa, apa-apa. kupikir, kenihilan & keinsignifikanan itu justru mesti kita sadari, bahkan patut dirayakan. oleh karenanya, tetaplah hidup, meskipun belum pernah (& mungkin tidak akan pernah) diapresiasi, diingat, dikenang, dihargai, atau “dianggap ada”—rayakanlah kenihilanmu & keinsignifikanmu sendiri, dengan caramu sendiri. semoga kita tidak berakhir seperti bintang-bintang yang sering kita lihat di malam hari: menjadi past tense; jauh, lampau, & telah mati.


***


maaf kalau tulisan ini tidak jelas atau malah memberi dampak buruk buatmu—aku mengarangnya dalam keadaan tipsy setelah menenggak alkohol ct manado campur sprite. oh ya, & bacardi spice rum.


“jangan lupa mabuk, demi meredam setan-setan dalam kepala yang terkutuk.”

Sabtu, 20 Agustus 2022

Reviu Singkat "Sapiens - Harari" yang ... Sungguh Hadeuh Sekali

 

Author: Yuval Noah Harari
Title: Sapiens: A Brief History of Humankind
Format: 512 pages, Paperback
ISBN: 9780099590088
Published: January 1, 2015 by Vintage
Language: English

Sapiens & Hal-Hal yang Tak Selesai

ingatan bekerja seperti mesin pencetak perangko yang ... dingin, pikun, & kuno. tapi sejuta deus lahir setiap hari. menggemakan mitos-mitos baru. lalu mempercepat laju masadepan, yang ... bergerak di antara: bagaimana primata-primitif cikal bakal manusia—mendomestikasi api dengan cara paling udik, seperti menggesekan dua buah batu tanpa sangsi;

& bagaimana seorang diktator mengontrol kerjasama global—dengan memainkan kelenjar adrenal, seperti memproduksi rudal yang ... dilengkapi hulu ledak nuklir—secara massal, melalui wajah keamanan negara, ditenagai isi kepala—fisikawan-teoritis yang ... tiba-tiba jadi nasionalis, sebab dibayar super-mahal—untuk menulis rumus-rumus matematika ... panjang x lebar x tinggi—untuk menjelaskan bagaimana interaksi antar atom bekerja—kepada para penambang bijih uranium yang ... sepertinya bekerja hanya demi bagaimana—bisa makan hari ini.

(2022)

—Moch Aldy MA

Maaf bila saya malah memulai tulisan dengan puisi yang dikarang sekitar 40 menit setelah selesai mengaji buku aduhai ini untuk yang ke-3 kalinya. Kalau tak salah ingat (& tak mengalami efek mandela), saya membaca-menamatkan Sapiens yang ditulis Prof. Yuval Noah Harari asal Israel ini, baik dalam bentuk cetak maupun digital—dalam versi bahasa Inggris & bahasa Indonesia—sebanyak 4 kali. Tapi tolong jangan bertanya ada di mana bentuk fisik buku saya yang satu ini (saya benci untuk mengakui fakta bahwa meminjamkan buku kepada teman dengan segunung harapan akan dikembalikan adalah salah satu kenaifan-kebloonan yang luar biasa).

Self diagnosis adalah sesuatu yang keliru sekaligus tak patut ditiru, tetapi saya ingin melakukannya—kemudian mengatakan bahwa meskipun Sapiens adalah buku bergizi, pada akhirnya, ia membuat saya sedikit depresi & kekurangan vitamin D yang cukup serius—diakibatkan oleh tubuh saya yang hampir tak terkena sinar ultraviolet pada pagi hari—sebab saya lebih banyak membuang pagi di dalam kamar saya yang berukuran kira-kira 4 x 5 meter persegi (sebenarnya tak bisa disebut persegi karena 4 x 5 itu asimetris) untuk mengkhatamkan buku ini.

Sedikit pengingat, kalimat-kalimat di atas, khususnya bagian vitamin D, adalah sebentuk hiperbola biasa yang lazim kalian temui jika membaca teks-teks Genrifinaldy. Namun yang jauh lebih penting dari itu, saya pikir, adalah fakta bahwa bukan matahari yang mengandung vitamin D—melainkan proses ketika kulit terpapar sinar ultraviolet dari matahari yang memicu sintesis vitamin D—lalu ginjal & hati mengonversinya menjadi vitamin D aktif yang dapat digunakan tubuh untuk meningkatkan peresapan kalsium & kesehatan tulang—begitu kata kawan saya yang dokter spesialis bedah.

Ok, saya kira cukup wawawa-nya—mari kita mulai.

Review Bukunya

Harari membuka Sapiens dengan mengajak pembaca untuk membayangkan bahwa ... di atas ketinggian di Afrika Timur, 2 juta tahun lalu, kita kemungkinan bisa menjumpai sekumpulan sosok-sosok lazimnya manusia:  ibu-ibu yang gelisah tengah membuai bayi-bayi mereka & kecipak riang anak-anak bermain di lumpur; pemuda-pemuda tempramental yang dongkol menentang aturan masyarakat & para tetua yang lelah minta ditinggalkan dalam suasana tenang; kaum jagoan dengan dada berdebar-debar yang berusaha memikat gadis-gadis cantik lokal & para nyonya rumah yang sudah menyaksikan itu semua.

Secara garis besar, Sapiens dibagi menjadi 4 bagian: Revolusi Kognitif, Revolusi Agrikultur, Penyatuan Manusia, & Revolusi Saintifik. Pertama, Revolusi Kognitif, berfokus pada hal-ihwal yang sangat berbau biologi, teka-teki evolusi yang terlampau ndakik-ndakik (bagi cetak biru kepala saya yang IPS-Sosiologi), sampai lompatan Homo Sapiens yang spektakuler ke puncak rantai makanan.

Tapi yang menarik adalah bagian yang membahas bahwa ukuran otak tak selalu berbanding lurus dengan kecerdasan: walaupun otak Sapiens Modern rata-rata hanya berukuran 1200-1400 sentimeter kubik, tetapi ia jauh lebih pintar dari Neanderthal yang berotak lebih jumbo (bahkan jika diadu dengan Neanderthal yang paling rajin belajar sekalipun); Sapiens Modern juga jauh lebih jenius dari famili kucing-kucingan yang meski berotak lebih gigan, tetap tak bisa mengerjakan soal-soal kalkulus.

Di titik ini, seketika otak saya yang piawai nakalnya membayangkan perlombaan cerdas cermat antara seekor babon bloon bermuka jelek versus Homo Sapiens yang tampan & cerdas—babon itu kalah, kemudian mengamuk & dengan mudah merobek-robek wajah rupawan Homo Sapiens sampai membuatnya menjadi jauh lebih jelek dari seekor babon bermuka jelek yang bahkan belum mandi selama 4 bulan lamanya.

Revolusi Kognitif, singkatnya, sebuah babak yang terjadi sekitar 70.000 tahun yang lalu—yang hanya dialami oleh Homo Sapiens—sehingga menjadikannya spesies yang overpower di hadapan kerabat-kerabatnya (Neanderthal, Homo Erectus, Homo Soloensis, & Homo Florensis)—yang tak mengalami Revolusi Kognitif. Secara biologis, Homo Sapiens yang digambarkan hampir identik dengan manusia modern. Mereka makan, minum, mencari pengakuan dari bestie atau crush-nya, melamun, bermain, jatuh cinta kepada orang yang salah, tidur, bermimpi kencing & bangun mendapatinya dirinya mengompol, hidup berkoloni, membentuk pertemanan akrab dengan sirkel-nya masing-masing & lain-lain & lain-lain.

Babak ini ditandai dengan meningkatnya kepekaan pancaindra (melihat, mendengar, membaui, mengecap, & merasakan) dalam mempersepsi-menganalisis realitas objektif, mulai munculnya realitas imajiner di batok kepala Homo Sapiens untuk mengarang hal-hal berwarna fiksi (yang dibahas lebih detail di bagian ke-3), & menajamnya kecerdasan linguistik (kemampuan berbahasa). Secara pragmatis, membidani lahirnya kebohongan pertama umat manusia & membuka berjuta kemungkinan di kepala Homo Sapiens untuk memanipulasi keadaan demi memenuhi keinginan-kebutuhannya.

"You could never convince a monkey to give you a banana by promising him limitless bananas after death in monkey heaven."

Harari mengajak kita untuk membayangkan bahwa kelak makhluk-makhluk bipedal nan menyedihkan & tak signifikan itu akan berjalan di bulan, mengolonisasi planet mars, membelah atom, menyibak kode genetik dalam mutasi setiap DNA, merumuskan rumus-rumus mekanika kuantum, & menulis buku-buku sejarah.

Transformasi terbesar ada di bagian kedua. Revolusi Agrikultur, adalah istilah yang diberikan untuk sejumlah alterasi budaya dari metode hunting-food gathering (berburu & mengumpulkan makanan) menjadi food producing (bercocok tanam & beternak) & mendomestikasi/menjinakkan (hampir semua) hewan-tumbuhan yang ada di muka bumi. Meski demikian, tak semua hewan mampu didomestikasi/dijinakkan oleh Homo Sapiens, katakanlah ... zebra, rakun, rubah, bonobo, kuda nil, atau serigala.

Hunting-food gathering adalah cara paling primitif (sekaligus udik) untuk mendapatkan makanan—yang dilakukan dengan cara berpencar untuk hunting (berburu) hewan-hewan liar & gathering (mengumpulkan makanan) tumbuhan/buah-buahan liar di belantara liar demi memenuhi kebutuhan fisiologis (baca: makan). Jika sumber makanan sudah habis, mereka akan langsung berpindah tempat untuk mencari sumber makanan yang baru.

Revolusi Agrikultur adalah titik di mana Homo Sapiens menjelajahi-merajai 3/3 muka bumi & dengan radikal memanfaatkannya secara produktif. Yang menarik adalah bahwa Harari (& Prof. Jared Diamond, iya ilmuwan yang famous itu) menggambarkan Revolusi Agrikultur sebagai kesalahan terbesar yang pernah dibuat manusia sepanjang sejarah. Revolusi Agrikultur tak bersinonim dengan apa yang disebut "sukses". Lebih lanjut, menurutnya, pada akhirnya kita tak mendomestikasi hewan-tumbuhan—melainkan sebaliknya. Dengan kata lain, kita diperbudak oleh apa yang kita domestikasi.

Pertanian-peternakan memang memudahkan Homo Sapiens untuk mendapatkan makanan, tetapi industrinya memiliki begitu banyak dampak buruk bagi manusia, hewan, & lingkungan: berkontribusi terhadap meningkatnya rasa mager di tubuh manusia modern (ketimbang berburu babi hutan menggunakan senapan angin yang belum tentu dapat, ya lebih baik ke pergi ke Jalan Suryakencana & membeli sate babi siap santap); hewan ternak menjadi rentan terhadap penyakit, mengalami penurunan kemampuan beradaptasi, & menjadi menyesal dilahirkan (ya bayangkan saja dilahirkan sebagai seekor ayam broiler yang tinggal menunggu takdir menjemputmu di restoran cepat saji atau mengalami transendensi menjadi semacam nugget rebus hasil ngide orang bloon yang kehabisan minyak goreng); agrikultur adalah salah satu pemicu yang mempercepat proses perubahan iklim global—katanya United Nations Environment Programme (UNEP), sekitar 13% emisi gas rumah kaca disebabkan pengoperasian agrikultur—peternakan menghabiskan 70% tanah untuk agrikultur atau setara dengan 30% permukaan tanah yang ada di planet biru ini.

Belum lagi emisi metana, tambah kawan saya (yang ini seorang diploma veteriner; D3 kesehatan hewan) yang gemar mengonsumsi fungi, yang tumbuh di atas tinja hewan ruminansia. Sejujurnya, saya jauh lebih penasaran dengan rasa daging genus gajah purba yang telah punah, mamut, jika dibuat rendang (ya saya tahu ini terdengar seperti random para tolol).

"We did not domesticate wheat. It domesticated us."

Tapi beribu tapi, dear Prof. Harari & Prof. Jared ... siapa orang sinting yang mau tetap hidup nomadik, berburu herbivora berkaki empat melawan karnivora macam harimau gigi pedang pakai tombak, & akhirnya memilih memakan tumbuhan random yang bisa saja membuatnya mampus dalam sekejap?

Bagian ketiga buku ini, Penyatuan Manusia, tak lagi membahas transisi Homo Sapiens dari spesies nomaden ke spesies menetap—kini, Harari menerawang efek domino dari umat manusia yang menjadi satu kesatuan yang tak terhindarkan. Dia berpendapat, bahwa keberhasilan kita dalam mencapai kesatuan ini adalah berkat kemampuan luar biasa untuk menciptakan berbagai mitos intersubjektif. Semacam hal-hal yang hanya ada dalam pikiran setiap individu yang mempercayainya—tak memiliki dasar saintifik, tetapi memungkinkan kerja sama dalam skala massal. Atas nama ekonomi, atas nama negara, atas nama agama—kita bersatu padu bekerja ... begitu mudahnya.

"How do you cause people to believe in an imagined order such as Christianity, democracy or capitalism? First, you never admit that the order is imagined."

Kemampuan untuk fafifu wasweswos ngueng-ngueng mencipta-mengarang mitos-mitos (termasuk tentang membacot hal-hal abstrak seperti ideologi, nasionalisme, patriotisme, sampai memformulasikan traktat perdamaian global) inilah yang membuat Homo Sapiens secara periodik tetap bertahan & secara meyakinkan terus berevolusi: membangun nilai-nilai kolektif, membentuk kerjasama ekonomi di atas alat tukar (mata uang) yang disepakati bersama, membina hubungan bilateral-multilateral, menyusun produk-produk hukum positif, & seterusnya & seterusnya.

Selain itu, mitos-mitos juga memungkinkan umat manusia (& peradaban yang melingkupinya) untuk terus bertumbuh-berkembang sedemikian rupa—juga secara simultan menurunkan angka konflik horizontal-vertikal antar individu agar tak saling timpuk-menimpuk menggunakan kapak perimbas, misalnya, sebagai imbas dari perbedaan-perbedaan rasial yang sama sekali tak terhindarkan—setidaknya sampai saat ini.

Mitos-mitos, saya pikir, adalah semacam rambu-rambu yang mencegah si miskin yang kelaparan tak menjarah dapur si kaya yang secara ironis kelebihan pangan.

Bagian ke-4 buku ini, Harari membawa pembaca pada apa yang disebut Revolusi Saintifik. Revolusi yang ... diproduksi di Eropa pada pertengahan milenium terakhir, kemudian didistribusikan ke seluruh dunia, & dikonsumsi secara brutal oleh negara-negara dunia ketiga. Bagian ini diisi semacam rasa haus kepada pengetahuan baru (yang sialnya disalahgunakan oleh kapitalisme & imperialisme). Menurut Harari, kemajuan saintifik ini memungkinkan kita untuk melampaui batasan-batasan biologis yang ditempatkan pada kita oleh evolusi.
Proses ini menjadi hal yang membentuk fase berikutnya dari sistem empiris manusia yang membentuk kita sedemikian rupa sampai kita sulit membayangkan konsekuensi logisnya.

Bagian paling menarik dari bagian ke-4, saya rasa, adalah ketika Harari membahas kebahagiaan. Seperti yang dia coba tampilkan: hampir tak ada cara untuk mengetahui—apakah kehidupan abad ke-21 kita yang nyaman ini membuat kita, secara objektif, lebih bahagia daripada nenek moyang kita?

Sedikit ngueng-ngueng soal kebahagiaan: tradisi intelektual Barat menyatakan bahwa untuk menjadi bahagia, yang paling perlu kita lakukan adalah pergi keluar rumah, mengamankan sumber daya, mendirikan bisnis, menjalankan pemerintahan, mendapatkan ketenaran, & menaklukkan dunia. Sebaliknya, tradisi intelektual Timur sudah sejak lama menarasikan antipodal-nya—misalnya, dalam untaian ajaran Buddha & Hindu (baik secara eksplisit/implisit), mereka bersikeras bahwa rasa puas mengharuskan kita belajar untuk tak menaklukkan dunia, melainkan menaklukkan instrumen yang membuat kita memandang dunia ini: pikiran kita.

Pada akhirnya, pada titik tertentu, Barat menghasilkan terlalu banyak playboy-tengil yang tak bahagia, yang suka misuh-misuh—sedang Timur terlalu banyak melahirkan orang bijak yang tak seru, yang kontraproduktif, yang hidupnya dihabiskan untuk meditasi, yang hanya memikirkan bagaimana menaklukkan kehendak & pikiran sebagai konsekuensi dari eksistensi.

"According to Buddhism, the root of suffering is neither the feeling of pain nor of sadness nor even of meaninglessness. Rather, the real root of suffering is this never-ending and pointless pursuit of ephemeral feelings, which causes us to be in a constant state of tension, restlessness & dissatisfaction. Due to this pursuit, the mind is never satisfied. Even when experiencing pleasure, it is not content, because it fears this feeling might soon disappear, & craves that this feeling should stay & intensify. People are liberated from suffering not when they experience this or that fleeting pleasure, but rather when they understand the impermanent nature of all their feelings, & stop craving them. This is the aim of Buddhist meditation practices. In meditation, you are supposed to closely observe your mind & body, witness the ceaseless arising & passing of all your feelings, & realise how pointless it is to pursue them. When the pursuit stops, the mind becomes very relaxed, clear & satisfied. All kinds of feelings go on arising & passing—joy, anger, boredom, lust—but once you stop craving particular feelings, you can just accept them for what they are. You live in the present moment instead of fantasising about what might have been. The resulting serenity is so profound that those who spend their lives in the frenzied pursuit of pleasant feelings can hardly imagine it. It is like a man standing for decades on the seashore, embracing certain ‘good’ waves & trying to prevent them from disintegrating, while simultaneously pushing back ‘bad’ waves to prevent them from getting near him. Day in, day out, the man stands on the beach, driving himself crazy with this fruitless exercise. Eventually, he sits down on the sand & just allows the waves to come & go as they please. How peaceful!"

Pada gilirannya, membaca bagian ini membuat saya ingin menelurkan hipotesa liar (hasil melamun di kamar mandi) yang terdengar lumayan mengerikan, tetapi cukup masuk akal: "harapan adalah pisau bermata dua: meningkatnya harapan adalah kabar baik yang membuat kita memiliki beribu alasan untuk tetap hidup; kabar buruknya, kita mungkin tak lebih bahagia daripada mereka yang datang jauh sebelum kita."

Terakhir, semisal pada akhirnya manusia bisa menjadi tuhan, maka ia akan menjadi jenis tuhan yang memiliki segalanya—kecuali kebahagiaan. Mengapa? knowledge is a power that makes humans suffer. Sekian, mari kita tutup tulisan ini (sebelum otak saya berubah menjadi petasan banting) dengan mantra andalan: semoga semua keberadaan berbahagia.

& dengan puisi yang saya karang setelah membaca Sapiens untuk yang ke-2 kalinya.

Sains yang Mengasyikkan & Kau yang Menyebalkan

Pada suatu masa sekitar 13,7 miliar tahun silam, zat, energi, waktu, & ruang berasal dari apa yang dikenal sebagai Ledakan Besar.

Kisah tentang bagian-bagian mendasar alam semesta ini kita kenal dengan Fisika.

Kira-kira 300 ribu tahun setelah muncul, zat dan energi mulai bergabung menjadi struktur-struktur kompleks yang disebut dengan atom & berkombinasi menjadi molekul-molekul.

Kisah atom, molekul, & interaksinya ini dikenal dengan Kimia.

Setelah itu sekitar 3,8 miliar tahun lalu di planet bumi, molekul-molekul tertentu bersatu padu membentuk struktur-struktur amat besar & rumit yang disebut organisme.

Kisah organisme-organisme ini kita kenal dengan Biologi.

Lalu sekitar dua puluh empat jam yang silam, organisme ini mengirim pesan kepada organisme lain yang disukainya.

Namun, walaupun pesannya sudah dibaca & si penerima sudah memposting eksistensinya sebanyak 17 kali, tetapi pesannya masih belum juga dibalas.

&, kisah organisme ini kita kenal dengan Elegi

(2020)

—Moch Aldy MA

Senin, 15 Agustus 2022

Reviu Singkat "A Brief History of Time - Hawking" yang Sepertinya Lebih Panjang Ngueng-Nguengnya ketimbang Review Bukunya

 


Author: Stephen Hawking
Title: A Brief History of Time: From the Big Bang to Black Holes
Format: 213 pages, Paperback
ISBN: 9780553380163 (ISBN10: 0553380168)
Published: September 1, 1998 by Bantam Books
Language: English

"What is the nature of time? Will it ever come to an end? Can we go back in time? Some day these answers may seem as obvious to us as the Earth orbiting the sun, or perhaps as ridiculous as a tower of tortoises. Only time, that's what we say." —The Theory of Everything (2014)

Mula-mula, saya ingin memberi semacam mukadimah & membangun jukstaposisi sependek pengetahuan saya. Namun yang perlu digarisbawahi adalah bahwa saya sama sekali tak bermaksud untuk menciptakan dikotomi yang tak perlu agar pembahasan ini terkesan seperti suatu bahasan yang teatrikal & enigmatik pada saat yang sama (atau malah menjadi omong kosong yang membingungkan). Faktanya, diskursus tentang 'Waktu' adalah Perang Dingin (atau jika menggunakan istilah yang lebih kolosal; adalah Perang Kurukshetra). Antara konsep Waktu Linier yang digaungkan oleh Agama-agama Samawi/Abrahamik & sebagian besar Intelektual Barat versus konsep Waktu Sirkuler yang diserukan oleh Agama-agama Ardhi & mayoritas Intelektual Timur.

Pada praktiknya, Agama-agama Samawi/Abrahamik (yang berwarna akhirat-sentris) memiliki kecondongan untuk memberi kita pandangan linier tentang peristiwa & waktu yang melingkupinya—bahwa waktu tidak pernah datang dua kali; bahwa waktu adalah sumber daya yang tak dapat diperbaharui. Sebaliknya, Agama-agama Ardhi memberi kita pandangan yang bersebrangan—bahwa waktu datang berulang kali; bahwa waktu adalah sumber daya yang tak akan habis.

Secara singkat, Waktu Linier: gagasan bahwa waktu adalah anak panah yang melesat dari masa lalu, melewati masa kini, & menuju masa depan. Dengan kata lain, hidup hanyalah sekali—& tentu mengandung corak pemikiran yang cenderung menegasikan kemungkinan adanya Reinkarnasi (kelahiran kembali). Sedangkan Waktu Sirkuler: anggapan bahwa waktu adalah roda yang berputar, atau bandul yang bergerak ritmis, konstan, & pasti, dari kanan ke kiri atau sebaliknya. Sehingga, setiap objek & peristiwa niscaya kembali ke posisi asalnya.

Di Yunani kuno, Kaum Stoa percaya bahwa alam semesta mengalami tahapan-tahapan transformasi, yang berulang-ulang serupa dengan yang ditemukan di konsep Kalachakra (roda waktu) pada teks-teks Buddhis & dalam genealogi Buddhisme di India & di Tibet (baik secara gamblang maupun samar).

Dalam tradisi pemikiran di Nusantara, khususnya masyarakat Jawa, kita akan menemukan konsep
Cakra Manggilingan yang hampir identik dengan Kalachakra, tetapi lebih komprehensif & ekstensif membahas waktu dalam konteks siklus hidup manusia. Dalam bahasa Sanskerta, Cakra bisa diartikan sebagai roda/cakram—sedangkan Manggilingan dalam bahasa Jawa mengandung makna "yang berputar"—sehingga interpretasi filosofisnya adalah bahwa kehidupan laksana roda yang kadang di atas, kadang di bawah, kadang di kiri, kadang di kanan ... hidup kadang bahagia, kadang sengsara, & seterusnya, & seterusnya.

Di Mesir kuno, kita akan menemukan simbol-simbol arkaik yang mengindikasikan konsep Waktu Sirkuler. Adalah Ouroboros/Uroboros, seekor ular (atau mungkin lebih tepatnya naga) yang sedang memakan ekornya sendiri sebagai simbol perulangan waktu (& keabadian). Ouroboros/Uroboros memasuki sendi-sendi tradisi pemikiran Barat melalui ikonografi Mesir kuno & tradisi magis Yunani—juga diadopsi sebagai simbol dalam Gnostisisme & Hermetisisme—terutama dalam ilmu alkimia oleh para alkemis. Kemudian, pasca berkembangnya agama Kristen, di Barat, gagasan Waktu Sirkuler tak lagi populer.

Review Bukunya

Jika rahasia & teka-teki kosmos adalah sebotol minuman bersoda, maka buku ini adalah pembuka tutup botol berbentuk hukum-hukum sains yang mengatur jagat raya. Agar kita tak terjebak dalam glorifikasi sains yang bermajas hiperbola, saya pikir kita tetap harus setuju dengan Hawking bahwa Tuhan tak hanya bermain dadu, tetapi dia melempar dadu itu ke tempat yang tak dapat kita temukan. A Brief History of Time, ditulis dalam bahasa yang saya kira cukup cair & lumayan ramah di kepala, sebab sudah di-downgrade sedemikian rupa (tetapi tetap dengan pertimbangan intelektual, tentunya) dengan harapan tak mereduksi makna aslinya sekaligus mudah dibaca-dipahami-dicerna seseorang yang bahkan tak selalu berpikir secara ilmiah & jarang bersinggungan dengan bahasa-bahasa fisika (kira-kira begitu ... kata sales marketing buku ini, yang kalau boleh jujur, saya sama sekali tak setuju di bagian mudah dibaca-dipahami-dicerna).

Di dalamnya pembaca akan menemukan siluet-siluet jawaban dari pertanyaan-pertanyaan perennial (yang tak pernah selesai dibahas), misalnya tentang bagaimana awal mula alam semesta atau seperti apa bentuknya di masa depan. Di dalamnya pembaca akan menemukan pertanyaan-jawaban berbau kosmologi (saya tertawa ketika menggunakan diksi 'kosmologi', sebab di salah satu adegan film berjudul "The Theory of Everything" yang mengudara pada tahun 2014—Hawking berkata bahwa kosmologi adalah semacam agama untuk seorang ateis yang cerdas) misalnya tentang ...

Newton, Einstein, & para fisikawan gigan lain yang merevolusi cara kita berpikir tentang bagaimana objek bergerak; di era posmodern yang serba-relatif—kecepatan cahaya tetaplah fix & konstan—sehingga kita tak selalu dapat mengukur kecepatan sesuatu itu relatif terhadap sesuatu yang lain; teori relativitas menyatakan bahwa waktu itu tak tetap; sebuah bintang bermassa berat yang mati akan menjadi singularitas yang disebut lubang hitam; lubang hitam tak sehitam itu; lubang hitam menyedot (hampir) segalanya; ada indikator kuat yang menunjukkan bahwa waktu hanya dapat bergerak maju (senada dengan konsep Waktu Linier); meskipun para ilmuan sepakat bahwa "awal mula" dimulai dengan ledakan besar, mereka tak tahu secara pasti bagaimana tepatnya itu terjadi; fisikawan belum mampu menyatukan relativitas umum & mekanika kuantum.

Saya membaca "A Brief History of Time" karya Stephen Hawking ini dalam versi e-book menggunakan perangkat Kindle Basic 10th Gen—sewaktu di dalam rangkaian KRL dari Stasiun Jurang Mangu—transit, Stasiun Tanah Abang—transit, Stasiun Manggarai—sampai Stasiun Bogor. Selain karena saya memang mengidap mabuk perjalanan, & mesti berdiri selama lebih dari 2 jam lamanya—RAM otak saya ini tergolong rendah & terlalu payah untuk mencerna buku-buku sains yang berat—sehingga, yang terjadi setelahnya adalah adegan muntah-mengeluarkan roti kasur & susu UHT (yang saya konsumsi pada pagi hari sebelum berangkat) di kamar mandi umum Stasiun Bogor.

Meski percaya bukanlah satuan fisika, pereviu percaya bahwa ada sekitar 3 hal yang bisa diutarakan setelah membaca A Brief History of Time: Pertama, pembaca setidaknya dapat menyadari betapa dirinya hanyalah debu kosmik di kosmos yang mahabongsor, mahaluas, mahaabsurd, mahamisteri, mahamembingungkan, & mahahaha; kedua, buku ini punya tendensi membuat pembaca melamun dengan lebih nikmat, lebih asoy, lebih tumaninah; ketiga, pembaca tak akan pernah melihat langit dengan cara yang sama lagi—jika kesadarannya menyadari bahwa ada sekitar 100 miliar hingga 200 miliar galaksi—dengan lebih dari 3 triliun planet di setiap galaksi—yang berputar-berotasi-berevolusi di tengah semesta aneh yang secara konstan terus mengembang ini.

Pada akhirnya, membaca buku ini mengingatkan saya pada ungkapan monumental, nothing really matters, dari Freddie (iya, Freddie Mercury—yang juga mengutip nama martir ilmu pengetahuan bernama Galileo; yang dihukum mati oleh gereja, yang pada saat itu lebih memilih untuk percaya bahwa bumi adalah datar) di lagu Bohemian Rhapsody. Dengan kata lain, A Brief History of Time, cenderung membuat saya berpikir bahwa buku ini dengan brutal seperti ingin menegaskan ulang eksistensi saya yang besar kemungkinan memanglah tak memiliki makna, alias tak berguna. Pada gilirannya, pada titik tertentu, saya kira buku ini juga membuat seulas senyum meraksasa di wajah Schopenhauer yang sepertinya sepanjang waktunya tak bosan-bosan untuk berkata bahwa hidup ini meaningless.

Jadi, yang benar itu Waktu Linier atau Waktu Sirkuler? entahlah ... hanya tukang jam tangan yang suka ngaret yang tahu.

Semoga semua keberadaan lekas berbahagia, sebelum sekitar 7 miliar hingga 8 miliar tahun lagi matahari yang kita ketahui bersama itu akan mengeluarkan serangkaian suara letupan-letusan yang tak teratur sekaligus tak menentu—& mati—lantas menjadi lubang hitam yang baru.

"It is clear that we are just an advanced breed of primates on a minor planet orbiting around a very average star, in the outer suburb of one among a hundred billion galaxies. BUT, ever since the dawn of civilization people have craved for an understanding of the underlying order of the world. There ought to be something very special about the boundary conditions of the universe. And what can be more special than that there is no boundary? And there should be no boundary to human endeavor. We are all different. However bad life may seem, there is always something you can do, and succeed at. While there is life, there is hope." —The Theory of Everything (2014)