Showing posts with label antropologi. Show all posts
Showing posts with label antropologi. Show all posts

Saturday 20 August 2022

Reviu Singkat "Sapiens - Harari" yang ... Sungguh Hadeuh Sekali

 

Author: Yuval Noah Harari
Title: Sapiens: A Brief History of Humankind
Format: 512 pages, Paperback
ISBN: 9780099590088
Published: January 1, 2015 by Vintage
Language: English

Sapiens & Hal-Hal yang Tak Selesai

ingatan bekerja seperti mesin pencetak perangko yang ... dingin, pikun, & kuno. tapi sejuta deus lahir setiap hari. menggemakan mitos-mitos baru. lalu mempercepat laju masadepan, yang ... bergerak di antara: bagaimana primata-primitif cikal bakal manusia—mendomestikasi api dengan cara paling udik, seperti menggesekan dua buah batu tanpa sangsi;

& bagaimana seorang diktator mengontrol kerjasama global—dengan memainkan kelenjar adrenal, seperti memproduksi rudal yang ... dilengkapi hulu ledak nuklir—secara massal, melalui wajah keamanan negara, ditenagai isi kepala—fisikawan-teoritis yang ... tiba-tiba jadi nasionalis, sebab dibayar super-mahal—untuk menulis rumus-rumus matematika ... panjang x lebar x tinggi—untuk menjelaskan bagaimana interaksi antar atom bekerja—kepada para penambang bijih uranium yang ... sepertinya bekerja hanya demi bagaimana—bisa makan hari ini.

(2022)

—Moch Aldy MA

Maaf bila saya malah memulai tulisan dengan puisi yang dikarang sekitar 40 menit setelah selesai mengaji buku aduhai ini untuk yang ke-3 kalinya. Kalau tak salah ingat (& tak mengalami efek mandela), saya membaca-menamatkan Sapiens yang ditulis Prof. Yuval Noah Harari asal Israel ini, baik dalam bentuk cetak maupun digital—dalam versi bahasa Inggris & bahasa Indonesia—sebanyak 4 kali. Tapi tolong jangan bertanya ada di mana bentuk fisik buku saya yang satu ini (saya benci untuk mengakui fakta bahwa meminjamkan buku kepada teman dengan segunung harapan akan dikembalikan adalah salah satu kenaifan-kebloonan yang luar biasa).

Self diagnosis adalah sesuatu yang keliru sekaligus tak patut ditiru, tetapi saya ingin melakukannya—kemudian mengatakan bahwa meskipun Sapiens adalah buku bergizi, pada akhirnya, ia membuat saya sedikit depresi & kekurangan vitamin D yang cukup serius—diakibatkan oleh tubuh saya yang hampir tak terkena sinar ultraviolet pada pagi hari—sebab saya lebih banyak membuang pagi di dalam kamar saya yang berukuran kira-kira 4 x 5 meter persegi (sebenarnya tak bisa disebut persegi karena 4 x 5 itu asimetris) untuk mengkhatamkan buku ini.

Sedikit pengingat, kalimat-kalimat di atas, khususnya bagian vitamin D, adalah sebentuk hiperbola biasa yang lazim kalian temui jika membaca teks-teks Genrifinaldy. Namun yang jauh lebih penting dari itu, saya pikir, adalah fakta bahwa bukan matahari yang mengandung vitamin D—melainkan proses ketika kulit terpapar sinar ultraviolet dari matahari yang memicu sintesis vitamin D—lalu ginjal & hati mengonversinya menjadi vitamin D aktif yang dapat digunakan tubuh untuk meningkatkan peresapan kalsium & kesehatan tulang—begitu kata kawan saya yang dokter spesialis bedah.

Ok, saya kira cukup wawawa-nya—mari kita mulai.

Review Bukunya

Harari membuka Sapiens dengan mengajak pembaca untuk membayangkan bahwa ... di atas ketinggian di Afrika Timur, 2 juta tahun lalu, kita kemungkinan bisa menjumpai sekumpulan sosok-sosok lazimnya manusia:  ibu-ibu yang gelisah tengah membuai bayi-bayi mereka & kecipak riang anak-anak bermain di lumpur; pemuda-pemuda tempramental yang dongkol menentang aturan masyarakat & para tetua yang lelah minta ditinggalkan dalam suasana tenang; kaum jagoan dengan dada berdebar-debar yang berusaha memikat gadis-gadis cantik lokal & para nyonya rumah yang sudah menyaksikan itu semua.

Secara garis besar, Sapiens dibagi menjadi 4 bagian: Revolusi Kognitif, Revolusi Agrikultur, Penyatuan Manusia, & Revolusi Saintifik. Pertama, Revolusi Kognitif, berfokus pada hal-ihwal yang sangat berbau biologi, teka-teki evolusi yang terlampau ndakik-ndakik (bagi cetak biru kepala saya yang IPS-Sosiologi), sampai lompatan Homo Sapiens yang spektakuler ke puncak rantai makanan.

Tapi yang menarik adalah bagian yang membahas bahwa ukuran otak tak selalu berbanding lurus dengan kecerdasan: walaupun otak Sapiens Modern rata-rata hanya berukuran 1200-1400 sentimeter kubik, tetapi ia jauh lebih pintar dari Neanderthal yang berotak lebih jumbo (bahkan jika diadu dengan Neanderthal yang paling rajin belajar sekalipun); Sapiens Modern juga jauh lebih jenius dari famili kucing-kucingan yang meski berotak lebih gigan, tetap tak bisa mengerjakan soal-soal kalkulus.

Di titik ini, seketika otak saya yang piawai nakalnya membayangkan perlombaan cerdas cermat antara seekor babon bloon bermuka jelek versus Homo Sapiens yang tampan & cerdas—babon itu kalah, kemudian mengamuk & dengan mudah merobek-robek wajah rupawan Homo Sapiens sampai membuatnya menjadi jauh lebih jelek dari seekor babon bermuka jelek yang bahkan belum mandi selama 4 bulan lamanya.

Revolusi Kognitif, singkatnya, sebuah babak yang terjadi sekitar 70.000 tahun yang lalu—yang hanya dialami oleh Homo Sapiens—sehingga menjadikannya spesies yang overpower di hadapan kerabat-kerabatnya (Neanderthal, Homo Erectus, Homo Soloensis, & Homo Florensis)—yang tak mengalami Revolusi Kognitif. Secara biologis, Homo Sapiens yang digambarkan hampir identik dengan manusia modern. Mereka makan, minum, mencari pengakuan dari bestie atau crush-nya, melamun, bermain, jatuh cinta kepada orang yang salah, tidur, bermimpi kencing & bangun mendapatinya dirinya mengompol, hidup berkoloni, membentuk pertemanan akrab dengan sirkel-nya masing-masing & lain-lain & lain-lain.

Babak ini ditandai dengan meningkatnya kepekaan pancaindra (melihat, mendengar, membaui, mengecap, & merasakan) dalam mempersepsi-menganalisis realitas objektif, mulai munculnya realitas imajiner di batok kepala Homo Sapiens untuk mengarang hal-hal berwarna fiksi (yang dibahas lebih detail di bagian ke-3), & menajamnya kecerdasan linguistik (kemampuan berbahasa). Secara pragmatis, membidani lahirnya kebohongan pertama umat manusia & membuka berjuta kemungkinan di kepala Homo Sapiens untuk memanipulasi keadaan demi memenuhi keinginan-kebutuhannya.

"You could never convince a monkey to give you a banana by promising him limitless bananas after death in monkey heaven."

Harari mengajak kita untuk membayangkan bahwa kelak makhluk-makhluk bipedal nan menyedihkan & tak signifikan itu akan berjalan di bulan, mengolonisasi planet mars, membelah atom, menyibak kode genetik dalam mutasi setiap DNA, merumuskan rumus-rumus mekanika kuantum, & menulis buku-buku sejarah.

Transformasi terbesar ada di bagian kedua. Revolusi Agrikultur, adalah istilah yang diberikan untuk sejumlah alterasi budaya dari metode hunting-food gathering (berburu & mengumpulkan makanan) menjadi food producing (bercocok tanam & beternak) & mendomestikasi/menjinakkan (hampir semua) hewan-tumbuhan yang ada di muka bumi. Meski demikian, tak semua hewan mampu didomestikasi/dijinakkan oleh Homo Sapiens, katakanlah ... zebra, rakun, rubah, bonobo, kuda nil, atau serigala.

Hunting-food gathering adalah cara paling primitif (sekaligus udik) untuk mendapatkan makanan—yang dilakukan dengan cara berpencar untuk hunting (berburu) hewan-hewan liar & gathering (mengumpulkan makanan) tumbuhan/buah-buahan liar di belantara liar demi memenuhi kebutuhan fisiologis (baca: makan). Jika sumber makanan sudah habis, mereka akan langsung berpindah tempat untuk mencari sumber makanan yang baru.

Revolusi Agrikultur adalah titik di mana Homo Sapiens menjelajahi-merajai 3/3 muka bumi & dengan radikal memanfaatkannya secara produktif. Yang menarik adalah bahwa Harari (& Prof. Jared Diamond, iya ilmuwan yang famous itu) menggambarkan Revolusi Agrikultur sebagai kesalahan terbesar yang pernah dibuat manusia sepanjang sejarah. Revolusi Agrikultur tak bersinonim dengan apa yang disebut "sukses". Lebih lanjut, menurutnya, pada akhirnya kita tak mendomestikasi hewan-tumbuhan—melainkan sebaliknya. Dengan kata lain, kita diperbudak oleh apa yang kita domestikasi.

Pertanian-peternakan memang memudahkan Homo Sapiens untuk mendapatkan makanan, tetapi industrinya memiliki begitu banyak dampak buruk bagi manusia, hewan, & lingkungan: berkontribusi terhadap meningkatnya rasa mager di tubuh manusia modern (ketimbang berburu babi hutan menggunakan senapan angin yang belum tentu dapat, ya lebih baik ke pergi ke Jalan Suryakencana & membeli sate babi siap santap); hewan ternak menjadi rentan terhadap penyakit, mengalami penurunan kemampuan beradaptasi, & menjadi menyesal dilahirkan (ya bayangkan saja dilahirkan sebagai seekor ayam broiler yang tinggal menunggu takdir menjemputmu di restoran cepat saji atau mengalami transendensi menjadi semacam nugget rebus hasil ngide orang bloon yang kehabisan minyak goreng); agrikultur adalah salah satu pemicu yang mempercepat proses perubahan iklim global—katanya United Nations Environment Programme (UNEP), sekitar 13% emisi gas rumah kaca disebabkan pengoperasian agrikultur—peternakan menghabiskan 70% tanah untuk agrikultur atau setara dengan 30% permukaan tanah yang ada di planet biru ini.

Belum lagi emisi metana, tambah kawan saya (yang ini seorang diploma veteriner; D3 kesehatan hewan) yang gemar mengonsumsi fungi, yang tumbuh di atas tinja hewan ruminansia. Sejujurnya, saya jauh lebih penasaran dengan rasa daging genus gajah purba yang telah punah, mamut, jika dibuat rendang (ya saya tahu ini terdengar seperti random para tolol).

"We did not domesticate wheat. It domesticated us."

Tapi beribu tapi, dear Prof. Harari & Prof. Jared ... siapa orang sinting yang mau tetap hidup nomadik, berburu herbivora berkaki empat melawan karnivora macam harimau gigi pedang pakai tombak, & akhirnya memilih memakan tumbuhan random yang bisa saja membuatnya mampus dalam sekejap?

Bagian ketiga buku ini, Penyatuan Manusia, tak lagi membahas transisi Homo Sapiens dari spesies nomaden ke spesies menetap—kini, Harari menerawang efek domino dari umat manusia yang menjadi satu kesatuan yang tak terhindarkan. Dia berpendapat, bahwa keberhasilan kita dalam mencapai kesatuan ini adalah berkat kemampuan luar biasa untuk menciptakan berbagai mitos intersubjektif. Semacam hal-hal yang hanya ada dalam pikiran setiap individu yang mempercayainya—tak memiliki dasar saintifik, tetapi memungkinkan kerja sama dalam skala massal. Atas nama ekonomi, atas nama negara, atas nama agama—kita bersatu padu bekerja ... begitu mudahnya.

"How do you cause people to believe in an imagined order such as Christianity, democracy or capitalism? First, you never admit that the order is imagined."

Kemampuan untuk fafifu wasweswos ngueng-ngueng mencipta-mengarang mitos-mitos (termasuk tentang membacot hal-hal abstrak seperti ideologi, nasionalisme, patriotisme, sampai memformulasikan traktat perdamaian global) inilah yang membuat Homo Sapiens secara periodik tetap bertahan & secara meyakinkan terus berevolusi: membangun nilai-nilai kolektif, membentuk kerjasama ekonomi di atas alat tukar (mata uang) yang disepakati bersama, membina hubungan bilateral-multilateral, menyusun produk-produk hukum positif, & seterusnya & seterusnya.

Selain itu, mitos-mitos juga memungkinkan umat manusia (& peradaban yang melingkupinya) untuk terus bertumbuh-berkembang sedemikian rupa—juga secara simultan menurunkan angka konflik horizontal-vertikal antar individu agar tak saling timpuk-menimpuk menggunakan kapak perimbas, misalnya, sebagai imbas dari perbedaan-perbedaan rasial yang sama sekali tak terhindarkan—setidaknya sampai saat ini.

Mitos-mitos, saya pikir, adalah semacam rambu-rambu yang mencegah si miskin yang kelaparan tak menjarah dapur si kaya yang secara ironis kelebihan pangan.

Bagian ke-4 buku ini, Harari membawa pembaca pada apa yang disebut Revolusi Saintifik. Revolusi yang ... diproduksi di Eropa pada pertengahan milenium terakhir, kemudian didistribusikan ke seluruh dunia, & dikonsumsi secara brutal oleh negara-negara dunia ketiga. Bagian ini diisi semacam rasa haus kepada pengetahuan baru (yang sialnya disalahgunakan oleh kapitalisme & imperialisme). Menurut Harari, kemajuan saintifik ini memungkinkan kita untuk melampaui batasan-batasan biologis yang ditempatkan pada kita oleh evolusi.
Proses ini menjadi hal yang membentuk fase berikutnya dari sistem empiris manusia yang membentuk kita sedemikian rupa sampai kita sulit membayangkan konsekuensi logisnya.

Bagian paling menarik dari bagian ke-4, saya rasa, adalah ketika Harari membahas kebahagiaan. Seperti yang dia coba tampilkan: hampir tak ada cara untuk mengetahui—apakah kehidupan abad ke-21 kita yang nyaman ini membuat kita, secara objektif, lebih bahagia daripada nenek moyang kita?

Sedikit ngueng-ngueng soal kebahagiaan: tradisi intelektual Barat menyatakan bahwa untuk menjadi bahagia, yang paling perlu kita lakukan adalah pergi keluar rumah, mengamankan sumber daya, mendirikan bisnis, menjalankan pemerintahan, mendapatkan ketenaran, & menaklukkan dunia. Sebaliknya, tradisi intelektual Timur sudah sejak lama menarasikan antipodal-nya—misalnya, dalam untaian ajaran Buddha & Hindu (baik secara eksplisit/implisit), mereka bersikeras bahwa rasa puas mengharuskan kita belajar untuk tak menaklukkan dunia, melainkan menaklukkan instrumen yang membuat kita memandang dunia ini: pikiran kita.

Pada akhirnya, pada titik tertentu, Barat menghasilkan terlalu banyak playboy-tengil yang tak bahagia, yang suka misuh-misuh—sedang Timur terlalu banyak melahirkan orang bijak yang tak seru, yang kontraproduktif, yang hidupnya dihabiskan untuk meditasi, yang hanya memikirkan bagaimana menaklukkan kehendak & pikiran sebagai konsekuensi dari eksistensi.

"According to Buddhism, the root of suffering is neither the feeling of pain nor of sadness nor even of meaninglessness. Rather, the real root of suffering is this never-ending and pointless pursuit of ephemeral feelings, which causes us to be in a constant state of tension, restlessness & dissatisfaction. Due to this pursuit, the mind is never satisfied. Even when experiencing pleasure, it is not content, because it fears this feeling might soon disappear, & craves that this feeling should stay & intensify. People are liberated from suffering not when they experience this or that fleeting pleasure, but rather when they understand the impermanent nature of all their feelings, & stop craving them. This is the aim of Buddhist meditation practices. In meditation, you are supposed to closely observe your mind & body, witness the ceaseless arising & passing of all your feelings, & realise how pointless it is to pursue them. When the pursuit stops, the mind becomes very relaxed, clear & satisfied. All kinds of feelings go on arising & passing—joy, anger, boredom, lust—but once you stop craving particular feelings, you can just accept them for what they are. You live in the present moment instead of fantasising about what might have been. The resulting serenity is so profound that those who spend their lives in the frenzied pursuit of pleasant feelings can hardly imagine it. It is like a man standing for decades on the seashore, embracing certain ‘good’ waves & trying to prevent them from disintegrating, while simultaneously pushing back ‘bad’ waves to prevent them from getting near him. Day in, day out, the man stands on the beach, driving himself crazy with this fruitless exercise. Eventually, he sits down on the sand & just allows the waves to come & go as they please. How peaceful!"

Pada gilirannya, membaca bagian ini membuat saya ingin menelurkan hipotesa liar (hasil melamun di kamar mandi) yang terdengar lumayan mengerikan, tetapi cukup masuk akal: "harapan adalah pisau bermata dua: meningkatnya harapan adalah kabar baik yang membuat kita memiliki beribu alasan untuk tetap hidup; kabar buruknya, kita mungkin tak lebih bahagia daripada mereka yang datang jauh sebelum kita."

Terakhir, semisal pada akhirnya manusia bisa menjadi tuhan, maka ia akan menjadi jenis tuhan yang memiliki segalanya—kecuali kebahagiaan. Mengapa? knowledge is a power that makes humans suffer. Sekian, mari kita tutup tulisan ini (sebelum otak saya berubah menjadi petasan banting) dengan mantra andalan: semoga semua keberadaan berbahagia.

& dengan puisi yang saya karang setelah membaca Sapiens untuk yang ke-2 kalinya.

Sains yang Mengasyikkan & Kau yang Menyebalkan

Pada suatu masa sekitar 13,7 miliar tahun silam, zat, energi, waktu, & ruang berasal dari apa yang dikenal sebagai Ledakan Besar.

Kisah tentang bagian-bagian mendasar alam semesta ini kita kenal dengan Fisika.

Kira-kira 300 ribu tahun setelah muncul, zat dan energi mulai bergabung menjadi struktur-struktur kompleks yang disebut dengan atom & berkombinasi menjadi molekul-molekul.

Kisah atom, molekul, & interaksinya ini dikenal dengan Kimia.

Setelah itu sekitar 3,8 miliar tahun lalu di planet bumi, molekul-molekul tertentu bersatu padu membentuk struktur-struktur amat besar & rumit yang disebut organisme.

Kisah organisme-organisme ini kita kenal dengan Biologi.

Lalu sekitar dua puluh empat jam yang silam, organisme ini mengirim pesan kepada organisme lain yang disukainya.

Namun, walaupun pesannya sudah dibaca & si penerima sudah memposting eksistensinya sebanyak 17 kali, tetapi pesannya masih belum juga dibalas.

&, kisah organisme ini kita kenal dengan Elegi

(2020)

—Moch Aldy MA